Produk Terbaru Pilihan Anda

Info Profil Desa Tutul Menuju Desa Handicraft Wisata Religi


PROFIL DESA
  1. Sejarah Desa
Sejarah Desa disusun bersasarkan sebagian bukti – bukti / peninggalan yang terdapat dilingkungan Desa serta menurut sumber cerita dari para sesepuh Desa Tutul dan Masyarakat, juga Perangkat Desa / Kepala Dusun yang dapat dipercaya adalah sebagai berikut  :
Sejarah Desa Tutul tidak jauh berbeda dengan sejarah Desa – Desa yang lain.Desa Tutul berdiri  Sejak kurang lebih tahun 1842 Desa Tutul masih hutan belantara, dan pada saat itulah R. Aryo Tarongsobeserta adiknya bernama          R. Suryo mulai melakukan babat hutan, Sebelum Embah R. Aryo Tarongso dan R. Suryo babat hutan mereka bertempat tinggal bersama keluarganya di Pulau Nusa Barong Di Puger.
Pada Kurang Lebih Tahun 1846 penghuni Desa Tutul tersebut masih sekitar 30 KK ( Kepala Keluarga ) dari putra putri keturunan serta Famili R. Aryo Tarongso, waktu itu Desa Hasil Bababtannya Kurang Lebih 25 Ha.
Desa Hasil Babatan tersebut diberi nama “ SUKO SARI “, Beliau mengartikan Suko = Gembira Sari = Rukun saat itu juga dimufakatkan bernama P. Sarminten Alias Sarmo sebagai Kepala Desa. Jadi Desa Tutul pertama kali bernama Desa Suko Sari.
Kemudian Kurang lebih Tahun 1853 karena waktu membabat hutan terdapat banyak Macan Tutulnya, maka Embah Demang R. Aryo Tarongso menggantikan nama Desa Suko Sari Dengan Nama Desa Tutul yang wilayah pemerintahannya meliputi Padukuhan Karang Semanding, Padukuhan Karang Duren.
Tahun 1859  P. Sarminten Alias Sarmo  Meniggal Dunia dan kedudukannya diganti oleh P. Rimo.Tahun 1867  P. Rimo Meninggal Dunia dan diganti oleh P. Ramisa.Tahun 1876  P. Ramisa Meninggal Dunia maka kedudukannya diganti P. Karsina Alias Itul.Tahun 1883  P. Karsina Alias Itul Berhenti dan diganti oleh P. Tijan.
Tahun 1889  P. Tijan berhenti pula dan diganti oleh P. Barip.

Tahun 1897  P. Barip Meninggal Dunia, Maka diganti dengan cara Dipilih oleh K.R. Moch. Sa’i yang asal mulanya dari Pasundan Jawa Barat, sebelum menjabat Kepala Desa Beliau menjabat sebagai Mudin Padasaat penggantian Kepala Desa dilakukan dengan cara pemilihan sederhana, ya’ni Kepala Keluarga dihadirkan ditengah lapang lalu dikelompok –kelompokkan untuk memilih calon Kepala Desa tersebut, mana yang paling banyak kelompoknya itulah yang menjadi Kepala Desa.
Tahun 1913 K.R. Moch. Sa’I meninggal dunia di Mekkah diwaktu menunaikan Ibadah Haji, dan seketika itupula pemerintah Belanda melaksanakan Pemilihan Kepala Desa yang terpilih adalah R. Wahap atau Joyo Astro Putra dari K.R. Moch. Sai.
Tahun 1915 Desa Tutul Mengadakan pemecahan menjadi tiga Desa, yaitu, Desa Tutul, Desa Karangsemanding,Karangduren.
a. Sejarah singkat Desa Karangsemanding
Oleh karena letak Padukuhan tersebut berdekatan  ( Nyanding ) dengan Desa Tutul maka dinamakan Desa Karangsemandin, waktu itu yang ditunjuk menjadi Kepala Desa Karangsemanding dan disahkan oleh Pemerintah adalah P. SIMO Yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dusun.
b. Sejarah Singkat Karangduren.
Oleh karena letak Padukuhan tersebut terdapat banyak tumbuh – tumbuhan atau pohon Durian (Duren) maka dinamakan Desa Karangduren. Yang ditunjuk dan disahkan sebagai kepala Desa Karangduren waktu itu Kepala Dusunnya sendiri.

Tiga Desa yaitu Tutul, Karangsemanding, Karangduren ini masih termasuk Wilayah Kecamatan Puger, Saat itu penduduknya Kurang Lebih 370 KK Atau 890 Jiwa dengan luas Desanya 5 Km2.
Tahun 1938 R.Wahab ( Joyo Astro ) Meninggal Dunia di Desa Tutul, sebagai penggantinya adalah R.Ibrahim Putra dari  R. Wahab, penggantian tersebut dilakukan dengan cara Pemilihan.
Tahun 1970 R. Achmad berhenti dengan hormat, kemudian diadakan  pemilihan, maka yang terpilih adalah H. Soelthon alias Mahfud Adik sepupu dari
R. Achmad Atau Cucu dari K.H.R. Moch. Sa’I H. Soelthon pernah menjabat sebagai Carik pada tahun 1949. Tahun 1990 H. Soelthon Berahir masa jabatannya karena UU NO. 5 Tahun 1979.
Pada bulan September 1990 di Desa Tutul mengadakan Pemilihan Kepala Desa ( PILKADES. ) dan yang terpilih adalah  Bapak Asri Wakin, B.Sc. Beliau dilantik pada  Tanggal 10 Oktober 1990. s/d 13 Januari 2007 Berhenti karena UU. No. 32 1999 Kemudian  Pada tanggal 14 April 2007  diadakan pemilihan Kepala Desa yang terpilih  Adalah “ IBU Dra. H. JUANA “ Adik Kandung dari Pak ASRI WAKIN,B.Sc. Dan sampai sekarang beliau memangku jabatan Kepala Desa.
Nama – nama Petinggi Desa atau Kepala Desa yang pernah dan masih menjabat sampai saa ini  adalah  :
No
N A M A
MASA JABATAN

1
R.ARIYO TARONGSO
1842 – 1848
Kades 1
2
SARMINTEN
1848 – 1859
Kades 2
3
P. R I M O
1859 – 1867
Kades 3
4
P. RAMISA
1867 – 1876
Kades 4
5
P. KARSINA Alis ITOEL
1876 – 1883
Kades 5
6
P. T I J A N
1883 – 1889
Kades 6
7
P.B A R I B
1889 – 1897
Kades 7
8
K.R.MOCH.SA’I
1897 – 1913
Kades 8
9
R.WAHAB (JOYO ASTRO)
1913 – 1938
Kades 9
10
R.IBRAHIM
1938 – 1950
Kades 10
11
R.ACHMAD
1950 – 1970
Kades 11
12
H.SOELTON
1970 – 1989
Kades 12 
13
ASRI WAKIN.B.Sc
1989 – 1997
Kades 13
14
ASRI WAKIN, B.Sc
1997 – 2007
Kades 14
15
Dra. Hj.JUANA
2007 – Sekarang
Kades 15
Kades yang ke 15 desa Tutul adalah kades pertama dari profil wanita wanita desa Tutul, Dra. Hj. Juana sebagai cikal bakal kepala desa wanita pertama desa Tutul semoga mampu memberi inspirasi bagi kaum wanita desa Tutul.


2. Demografi
Secara umum Desa Tutul mayoritas penduduknya merupakan penduduk asli dan sisasnya sebagian kecil merupakan penduduk pendatang.dilihat dari penyebarannya suku bangsa penduduk Desa Tutul terdapat dua suku yaitu suku Jawa dan suku Madura dan sebagian kecil suku yang lain. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk dan Pemutahran Penduduk tahun 2010, jumlah Penduduk Desa Tutul adalah terdiri dari 2.713 KK, dengan jumlah Penduduk   9.989 jiwa, dengan rincian Laki-laki :4.895 Jiwa Perempuan : 5.094 Jiwa  Dari total seluruh penduduk desa Tutul bahwa penduduk usia produktif pada usia 20-49 tahun Desa Tutul sekitar4.764 atau hampir 47.69 %. Hal ini merupakan modal berharga bagi pengadaan tenaga produktif dan SDM.
Tingkat kemiskinan di Desa Tutul termasuk tinggi. Dari jumlah 2.713 KK terdiri dari :
1.     Jumlah Keluarga  Pra Sejahtera       ; 1.127 KK
2.     Jumlah Keluarga Sejahtera I           :    449 KK
3.     Jumlah Keluarga Sejahtera II                   ;    522 KK
4.     Jumlah Keluarga Sejahtera III        ;    327 KK
5.     Jumlah Keluarga Sejahtera IIII plus :    288 KK
Jika KK golongan Pra-sejahtera dan KK Keluarga Sejahtera I        digolongkan sebagai KK golongan miskin, maka lebih  58 % KK Desa Tutul adalah keluarga miskin.
Secara geografis Desa Tutul terletak pada posisi 28 C – 37C Lintang Selatan dan 110°10′-111°40′ Bujur Timur. Topografi ketinggian Desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 30 M di atas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS kabupaten Jember tahun 2010, selama tahun 2010 curah hujan di Desa Tutul rata-rata mencapai .1.257 mm.
Secara administratif, Desa Tutul terletak di wilayah Kecamatan Balung Kabupaten Jember dengan posisi dibatasi oleh wilayah Desa-Desa tetangga sbb:
1.     Sebelah Utara                    : Desa Balunglor, Desa Karangsemanding, Desa
Karangduren  Kecamatan Balung
1.     Sebelah Selatan        : Desa Jambearum Kecamatan Puger
2.     Sebelah Timur                   : Desa Balungkulon dan Balung lor Kec. Balung
3.     Sebelah  Barat         : Desa  Bagon Kec. Puger dan  Desa Kargsemanding Kec. Balung
Jarak tempuh Desa Tutul ke ibu kota kecamatan adalah 3 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 5 menit, jarak tempuh ke ibu kota kabupaten adalah 25 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 45 Menit, jarak tempuh ke ibu kota Provinsi adalah 215 km, sedangkan jarak tempuh ke ibu kota  Negara adalah 1017 km
a. Pendidikan
Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan tingkat SDM (Sumber Daya Manusia) yang dapat berpengaruh dalam jangka panjang pada peningkatan perekonomian. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan
mendongkrak tingkat kecakapan masyarakat yang pada gilirannya akan mendorong tumbuhnya ketrampilan kewirausahaan dan lapangan kerja baru, sehingga akan membantu program pemerintah dalam mengentaskan pengangguran dan kemiskinan. 
Dari di atas menunjukan bahwa mayoritas penduduk Desa Tutul hanya mampu menyelesaikan sekolah di jenjang pendidikan wajib belajar sembilan tahun (SD dan SMP). Dalam hal kesediaan sumber daya manusia (SDM) yang memadahi dan mumpuni, keadaan ini merupakan tantangan tersendiri.
Rendahnya kualitas tingkat pendidikan di Desa Tutul, tidak terlepas dari terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada, di samping tentu masalah ekonomi dan pandangan hidup masyarakat. Sarana pendidikan di Desa Tutul baru tersedia di tingkat pendidikan dasar 9 tahun (SD dan SMP), sementara untuk pendidikan tingkat menengah ke atas berada di tempat lain yang relatif jauh.
Sebenarnya ada solusi yang bisa menjadi alternatif bagi persoalan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Desa Tutul yaitu melalui pelatihan dan kursus. Namun sarana atau lembaga ini ternyata juga belum tersedia dengan baik di Desa Tutul. Bahkan beberapa lembaga bimbingan belajar dan pelatihan yang pernah ada tidak bisa berkembang.
b. Kesehatan
Masalah pelayanan kesehatan adalah hak setiap warga masyarakat dan merupakan hal yang penting bagi peningkatan kualitas masyarakat kedepan. Masyarakat yang produktif harus didukung oleh kondisi kesehatan. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang terserang penyakit. Dari data yang ada menunjukkan adanya jumlah masyarakat yang terserang penyakit relatif tinggi. Adapun penyakit yang sering diderita antara lain infeksi pernapasan akut bagian atas, malaria, penyakit sistem otot dan jaringan pengikat. Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan yang sering dialami penduduk adalah penyakit yang bersifat cukup berat dan memiliki durasi lama bagi kesembuhannya, yang diantaranya disebabkan perubahan cuaca serta kondisi lingkungan yang kurang sehat. Ini tentu mengurangi daya produktifitas masyarakat  Desa Tutul secara umum.
Sedangkan data orang cacat mental dan fisik juga cukup tinggi jumlahnya. Tercatat penderita bibir sumbing berjumlah 0 orang, tuna wicara 4 orang, tuna rungu 4 orang, tuna netra 3 orang, dan lumpuh 1 orang. Data ini menunjukkan masih rendahnya kualitas hidup sehat di Desa Tutul.
Hal yang perlu juga dipaparkan di sini adalah terkait keikutsertaan masyarakat dalam KB. Terkait hal ini peserta KB aktif tahun 2010 di Desa Tutul berjumlah 1.776 .pasangan usia subur. Sedangkan jumlah bayi yang diimunisasikan dengan Polio dan DPT-1 berjumlah 119 bayi. Tingkat partisipasi demikian ini relatif tinggi walaupun masih bisa dimaksimalkan mengingat cukup tersedianya fasilitas kesehatan berupa sebuah Puskesmas Pembantu di Desa Tutul. Maka wajar jika ketersediaan fasilitas kesehatan yang relatif langka ini berdampak pada kualitas kelahiran bagi bayi lahir. Dari 138 kasus bayi lahir pada tahun 2010, hanya 4  bayi yang tidak tertolong.
Hal yang perlu juga dipaparkan di sini adalah kualitas balita. Dalam hal ini, dari jumlah 676 balita di tahun 2010, masih terdapat 1 balita bergizi buruk, 53. balita bergizi kurang dan lainnya sedang dan baik. Hal inilah kiranya yang perlu ditingkatkan perhatiannya agar kualitas balita Desa Tutul ke depan lebih baik.      
3. Keadaan Sosial
Dengan adanya perubahan dinamika politik dan sistem politik di Indonesia yang lebih demokratis, memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk menerapkan suatu mekanisme politik yang dipandang lebih demokratis. Dalam konteks politik lokal Desa Tutul, hal ini tergambar dalam pemilihan kepala Desa dan pemilihan-pemilihan lain (Pilleg, Pilpres, Pemillukada, Dan Pilgub) yang juga melibatkan warga masyarakat Desa secara umum.
Pada bulan Juli 2010 ini masyarakat juga dilibatkan dalam pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Jember secara langsung. Walaupun tingkat partisipasinya lebih rendah dari pada pilihan kepala Desa, namun hampir 65 .% daftar pemilih tetap, memberikan hak pilihnya. Ini adalah proggres demokrasi yang cukup signifikan di Desa Tutul.
Setelah proses-proses politik selesai, situasi Desa kembali berjalan normal. Hiruk pikuk warga dalam pesta demokrasi Desa berakhir dengan kembalinya kehidupan sebagaimana awal mulanya. Masyarakat tidak terus menerus terjebak dalam sekat-sekat kelompok pilihannya. Hal ini ditandai dengan kehidupan yang penuh tolong menolong maupun gotong royong.
Walaupun pola kepemimpinan ada di Kepala Desa namun mekanisme pengambilan keputusan selalu ada pelibatan masyarakat baik lewat lembaga resmi Desa seperti Badan Perwakilan Desa maupun lewat masyarakat langsung. Dengan demikian terlihat bahwa pola kepemimpinan di Wilayah Desa Tutul mengedepankan pola kepemimpinan yang demokratis.
Berdasarkan deskripsi beberapa fakta di atas, dapat dipahami bahwa Desa Tutul mempunyai dinamika politik lokal yang Arif. Hal ini terlihat baik dari segi pola kepemimpinan, mekanisme pemilihan kepemimpinan, sampai dengan partisipasi masyarakat dalam menerapkan sistem politik demokratis ke dalam kehidupan politik lokal. Tetapi terhadap minat politik daerah dan nasional terlihat masih kurang antusias. Hal ini dapat dimengerti dikarenakan dinamika politik nasional dalam kehidupan keseharian masyarakat Desa Tutul kurang mempunyai greget, terutama yang berkaitan dengan permasalahan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat secara langsung.
4. Keadaan Ekonomi
Tingkat pendapatan rata-rata penduduk Desa Tutul Rp 5.400.000,00 Secara umum mata pencaharian warga masyarakat Desa Tutul dapat teridentifikasi ke dalam beberapa sektor yaitu pertanian, , industri ,jasa/perdagangan dan lain-lain. Berdasarkan data yang ada, masyarakat yang bekerja di sektor pertanian berjumlah 2.045. orang, yang bekerja disektor jasa berjumla 939 orang, yang bekerja di sektor industri 989 orang, dan bekerja di sektor lain-lain 42 orang. Dengan demikian jumlah penduduk yang mempunyai mata pencaharian berjumlah 4.015 orang. Berikut ini adalah tabel jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian.
B. Kondisi Pemerintahan Desa
  1. Pembagian Wilayah Desa
Secara administratif, Desa Tutul  terletak di wilayah Kecamatan Balung Kabupaten Jember dengan posisi dibatasi oleh wilayah Desa-Desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Balunglor,Desa Krangsemanding Desa Karangduren Kecamatan Balung. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bagon dan Desa Karangsemanding Kecamatan Balung. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Jambearum Kecamatan Puger, sedangkan Di sebelah Timur berbatasan dengan Desa  Balungkulon Kecamatan Balung.  Desa Tutul Terdiri dari 4 ( empat ) Dusun yaitu  :
1.     Dusun  Maduran
2.     Dusun  Krajan
3.     Dusun  Kebon
4.     Dusun  Karuk
  POTENSI DAN MASALAH
A. Potensi
Desa Tutul memiliki potensi yang sangat besar, baik sumber daya alam, sumber daya manusia maupun kelembagaan / organisasi. Sampai saat ini, potensi sumber daya yang ada belum benar-benar optimal diberdayakan.
1.     a.    Sumber Daya Alam
2.     Lahan pertanian (sawah) yang masih dapat ditingkatkan produktifitasnya karena saat ini belum dikerjakan secara optimal
3.     Lahan pekarangan yang subur, belum dikelola secara maksimal
1.     Wilayah Desa Tutul sangat baik untuk dikembangkan sebagai Desa Wisata Kerajinan, mengingat banyaknya Industri Kecil  ( Home Industri) berupa Manik-manik ( Aksosories), Kalung, gelas,Supit, Tasbih dan  alat-alat rumah tangga dari kayu Aren , sedangkan bidang usaha ini baru menjadi usaha sampingan.
2.     Banyaknya sisa kotoran ternak sapi dan kambing, memungkinkan untuk dikembangkan usaha pembuatan pupuk organik
3.     Adanya usaha perikanan air tawar
4.     Adanya usaha meubelir dan perbengkelan
1.     b.   Sumber Daya Manusia
5.     Silkus dan ritme kehidupan warga masyarakat yang dari masa ke masa relatif teratur dan terjaga adatnya.
6.     Hubungan yang baik dan kondusif antara kepala Desa, Perangkat Desa, dan masyarakat merupakan kondisi yang idial untuk terjadinya pembangunan Desa.
7.     Besarnya penduduk usia produktif disertai etos kerja masyarakat yang tinggi.
8.     Cukup tingginya partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan Desa.
9.     Masih hidupnya tradisi gotong royong dan kerja bakti masyarakat. Inilah salah satu bentuk partisipasi warga.
10.  Besarnya sumber daya perempuan usia produktif sebagai tenaga produktif yang dapat mendorong potensi industri  Kecil  (Home Industri)
11.  Masih adanya swadaya masyarakat (urunan untuk pembangunan).
12.  Kemampuan bertani yang diwariskan secara turun-temurun.
13.  Adanya kader kesehatan yang cukup, dari dokter sampai para kader  posyandu yang ada di setiap dusun
10. Adanya penduduk yang mampu membuat  kerajinan.
11. Adanya kelembagaan, organisasi, dan kelompok-kelompok, pertanian, usaha dan keagamaan Desa, memudahkan dalam berkoordinasi setiap kegiatan pembangunan.
Daftar peta permasalahan ini didapat dari hasil musrenbangdes penyusunan RPJM Desa Tutul yang menghadirkan masing-masing perwakilan Dusun yang berkompeten dan mewakili unsur-unsur yang ada di dalamnya. Sebagai data tambahan, upaya observasi dan wawancara dengan para pihak terkait juga dilakukan, sehingga dimungkinkan tidak ada masalah, potensi dan usulan perencanaan pembangunan Desa yang tercecer.
Semua pandangan yang muncul diinventarisir, dicoding, dan diskoring, untuk kemudian diurutkan berdasarkan nilai permasalahan yang mendapat skoring terbanyak di masing-masing bidang. Karena begitu banyaknya masalah yang masuk maka diupayakan reduksi data, sehingga masalah di sini benar-benar masalah pokok dan penting.
3. Kelembagaan / Organisasi
1.     Hubungan yang baik dan kondusif antara kepala Desa, pamong Desa, lembaga Desa dan masyarakat, merupakan kondisi yang ideal untuk terjadinya pembangunan Desa.
2.     Adanya lembaga di tingkat Desa, yaitu Pemerintah Desa, LPMD dan BPD yang berperan dan dipercaya masyarakat.
3.     Adanya kelompok-kelompok di Desa seperti Karang Taruna, kelompok tani dan kelompok keagamaan.
B. Masalah
Daftar peta permasalahan ini didapat dari hasil Pengkajian keadaan Desa Tentang Potensi Dusun, penyusunan RPJM Desa Tutul yang menghadirkan masing-masing perwakilan dusun yang berkompeten dan mewakili unsur-unsur yang ada di dalamnya dengan menggunakan alat kaji Potret Dusun, Diagram Venn Hubungan Kelembagaan serta Kalender Musim. Sebagai data tambahan, upaya observasi dan wawancara dengan para pihak terkait juga dilakukan, sehingga dimungkinkan tidak ada masalah, potensi dan usulan perencanaan pembangunan Desa yang terlewatkan/tidak terakomodasi.
Semua pandangan yang muncul diinventarisir, dicoding, dan diskoring, untuk kemudian diurutkan berdasarkan nilai permasalahan yang mendapat skoring terbanyak di masing-masing bidang. Karena begitu banyaknya masalah yang masuk maka diupayakan reduksi data, sehingga masalah di sini benar-benar masalah pokok dan penting.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. KAMPUNG WISATA CRAFT JEMBER Edukatif Riset Marketting Multi Craft Etnik Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi